Kelimpahan Dinoflagellata Bentik Berbahaya di Habitat Lamun dan Makroalga di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Indonesia

Authors

  • Mochamad Ramdhan Firdaus Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Arief Rachman Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Oksto Ridho Sianturi Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Diah Anggraini Wulandari Pusat Riset Bioteknologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Hanny Meirinawati Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Mariana Destila Bayu Intan Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
  • Edy Endrotjahyo Pusat Riset Oseanografi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

DOI:

https://doi.org/10.14203/oldi.2021.v6i3.382

Keywords:

dinoflagellata bentik, amphidinium, coolia, gambierdiscus, ostreopsis, prorocentrum, lamun, rumput laut, nutrien

Abstract

Dinoflagellata bentik merupakan bagian dari fungsi ekosistem dasar perairan. Namun keberadaan dinoflagellata penghasil senyawa racun ciguatoxin (CTX) penyebab penyakit Ciguatera Fish Poisoning (CFP) merupakan ancaman bagi kehidupan biota laut dan manusia di kawasan pesisir kepulauan, seperti di Pulau Pari. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kelimpahan lima genus dinoflagellata bentik berbahaya dan beracun, yaitu Amphidinium, Coolia, Gambierdiscus, Ostreopsis, dan Prorocentrum di dua tipe habitat di Pulau Pari, yaitu habitat makroalga dan lamun. Pengambilan sampel dinoflagellata bentik dilakukan pada Juni 2019 menggunakan substrat buatan berupa kasa berukuran 10×15 cm. Selain itu dilakukan pengukuran beberapa parameter lingkungan seperti kandungan nutrien (nitrogen dan fosfat) dan suhu. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa rata-rata kelimpahan sel dinoflagellata di habitat lamun lebih tinggi empat kali lipat dibandingkan di habitat makroalga. Genus Gambierdiscus diketahui paling melimpah di habitat lamun, sedangkan Prorocentrum paling melimpah di habitat makroalga. Analisis Kelompok Utama (AKU) menunjukkan bahwa rasio nitrogen-fosfor (N:P) merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap sebagian besar genus target dalam penelitian ini, kecuali Ostreopsis yang diketahui melimpah di habitat makroalga yang kaya kandungan fosfor (P). Adanya peningkatan densitas dinoflagellata bentik beracun hingga tujuh kali lipat dalam kurun waktu 6-7 tahun sejak penelitian terdahulu di tahun 2012 dan 2013 menunjukkan pertambahan tingkat gangguan dan tekanan pada habitat makroalga dan lamun di Pulau Pari. Hal tersebut membutuhkan perhatian khusus untuk menghindari terjadinya kasus Marak Alga Berbahaya (MAB) dan CFP akibat ledakan populasi dinoflagellata bentik beracun di perairan Pulau Pari.

Downloads

Published

2026-02-23

How to Cite

Mochamad Ramdhan Firdaus, Arief Rachman, Oksto Ridho Sianturi, Diah Anggraini Wulandari, Hanny Meirinawati, Mariana Destila Bayu Intan, & Edy Endrotjahyo. (2026). Kelimpahan Dinoflagellata Bentik Berbahaya di Habitat Lamun dan Makroalga di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Indonesia. OLDI (Oseanologi Dan Limnologi Di Indonesia), 6(3), 191–204. https://doi.org/10.14203/oldi.2021.v6i3.382

Issue

Section

Articles

Similar Articles

<< < 1 2 3 4 

You may also start an advanced similarity search for this article.