PEMODELAN ATMOSFER DENGAN WRF PADA KEJADIAN BANJIR JAKARTA 17 JANUARI 2013

Main Article Content

Ardhi Adhary Arbain

Abstract

Simulasi WRF pada tanggal 16-17 Januari 2013 dilakukan untuk menguji performa model dalam mendeteksi fenomena seruak dingin dan hujan ekstrim yang merupakan pemicu utama bencana banjir Jakarta pada periode tersebut. Metode verifikasi kualitatif dan kuantitatif pada tiap grid secara dikotomi digunakan untuk membandingkan keluaran model dengan data observasi Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) dan NCEP Reanalysis. Performa model WRF dihitung berdasarkan nilai akurasi (ACC), Critical Success Index (CSI), Probability of Detection (POD) dan False Alarm Ratio (FAR) yang diperoleh dari hasil verifikasi numerik. Hasil pengujian menunjukkan bahwa WRF mampu melakukan deteksi waktu awal kejadian hujan ekstrim dengan tepat setelah 6-7 jam sejak inisiasi model dilakukan. Performa terbaik WRF teramati pada pukul 02-09 WIB (LT) dengan nilai CSI mencapai 0,32, POD 0,82 dan FAR 0,66. Hasil verifikasi secara kualitatif dan kuantitatif juga menunjukkan bahwa WRF dapat melakukan deteksi seruak dingin dan hujan ekstrim sebelum banjir terjadi, walaupun dengan ketepatan durasi waktu dan lokasi kejadian yang masih relatif rendah bila dibandingkan dengan data observasi.

Article Details

How to Cite
Ardhi Adhary Arbain. (2013). PEMODELAN ATMOSFER DENGAN WRF PADA KEJADIAN BANJIR JAKARTA 17 JANUARI 2013. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 14(1), 29–33. https://doi.org/10.29122/jstmc.v14i1.2679
Section
Articles

Similar Articles

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.