POTENSI ISOLAT Bacillus thuringiensis TERHADAP PERBAIKAN HISTOPATOLOGI JARINGAN KULIT MENCIT (Mus musculus L., 1758) YANG DIINFEKSI BAKTERI Pseudomonas aeruginosa MULTI DRUG RESISTANCE

Authors

  • Kusuma Handayani Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Lampung
  • Dzul Fithria Mumtazah Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Lampung
  • Adelina Putri Ndola Mari Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Lampung
  • Gina Dania Pratami Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Lampung

DOI:

https://doi.org/10.55981/berita_biologi.2026.13641

Keywords:

antibakteri, Bacillus thuringiensis, luka sayat, multi drug resistance

Abstract

Bakteri multi drug resistance menyebabkan lamanya proses penyembuhan luka dan membentuk nanah (pus) pada kulit. Bakteri P.aeruginosa merupakan salah satu bakteri multi drug resistance yang menginfeksi luka. Pertumbuhan bakteri multi drug resistance dapat dihambat dengan menggunakan obat antibiotik. Antibiotik umumnya berasal dari bahan sintetik, akan tetapi penggunaan antibiotik alami dapat mengurangi resiko pengembangan strain resistensi antibiotik. Agen pengendali hayati seperti Bakteri Bacillus thuringiensis memiliki kemampuan menghasilkan bakteriosin yang disebut thuricin yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri P. aeruginosa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian salep B. thuringiensis terhadap proses perbaikan histopatologi jaringan kulit mencit, serta untuk mengetahui konsentrasi pemberian salep B. thuringiensis yang efektif dalam menyembuhkan luka sayat pada mencit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan strain bakteri B. thuringiensis kode Bt3. Pada penelitian ini luka sayat diinfeksikan terlebih dahulu dengan bakteri P. aeruginosa. Terdapat 5 perlakuan yang digunakan yaitu pemberian salep Bt3 konsentrasi 5%, salep Bt3 konsentrasi 10%, serta 3 kontrol yaitu kontrol positif luka dengan salep aminoglikosida (gentamicin sulfate 0.1%), kontrol negatif (luka tanpa pemberian salep), dan kontrol normal (luka tanpa perlakuan). Setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, pemberian salep dilakukan secara topikal sebanyak 2x sehari selama 13 hari. Pengamatan dilakukan selama 14 hari setelah dilakukan pembuatan luka sayat. Parameter yang diamati yaitu kepadatan kolagen, perubahan warna luka, pembengkakan luka, dan persentase penyembuhan luka. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan One- Way ANOVA serta uji lanjut dengan Post Hoc Tukey HSD pada taraf 5%. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian salep Bt3 berpotensi dalam membantu proses perbaikan histopatologi luka sayat kulit mencit yang diinfeksikan bakteri P.aeruginosa berdasarkan parameter kepadatan kolagen, perubahan warna luka, dan persentase penyembuhan luka. Konsentrasi 5% merupakan konsentrasi yang paling efektif dalam menyembuhkan luka sayat kulit mencit yang diinfeksikan bakteri P. aeruginosa multi drug resistance.

Downloads

Published

2026-08-31